ETALASE

Proyek RSUD Chasan Boesoirie Bakal tak Selesai

Iklan

TERNATE, DETEKSINEWS.com – Proyek pembangunan gedung rawat inap kelas I, II dan III senilai Rp 26,3 miliar (Tepatnya Rp 26.307.250.543,42) milik RSUD Chasan Boesoirie, Ternate, terancam tidak bisa diselesaikan tepat waktu. Hal ini dibuktikan dengan progres pekerjaan di lapangan yang sangat lambat dan tidak menunjukkan perkembangan signifikan. Bahkan selama empat bulan ini, pekerjaan yang berhasil dilakukan baru sebatas pengecoran fondasi.

Papan Proyek

Padahal, dari informasi yang diperoleh Deteksi News, proyek yang bersumber dari DAK tahun 2018 ini, waktu pelaksanaan hanya 200 hari sejak kontrak ditandatangani pada 8 Juni 2018 lalu. Dengan demikian, kontraktor tinggal memiliki waktu selama tiga bulan untuk membangun gedung empat lantai, yang berisi puluhan ruangan di dalamnya serta instalasi listrik dan air.

“Proyek ini tidak bisa selesai sampai Desember 2018. Bayangkan, empat bulan hanya bisa bangun fondasi. Luar biasa lambatnya. Dan parahnya, sampai sekarang tidak ada desakan dari pihak Rumah Sakit agar kontraktor mempercepat pekerjaan,” kata salah satu sumber Deteksi News.

Sumber tersebut mengatakan, selama berbulan-bulan jumlah pekerja tidak mengalami penambahan, yakni hanya belasan orang saja. Padahal dengan waktu yang semakin mepet, pihak Rumah Sakit harusnya mendesak kontraktor agar menambah lagi pekerja, bahkan bila perlu sampai 100 orang.

Informasi lain yang didapat Deteksi News, lambannya pekerjaan ini diduga karena kontraktor pelaksana berasal dari luar daerah, yakni PT Sarjis Agung Indrajaya, yang beralamat di Banda Aceh. Sementara konsultan pengawas yakni PT. Gumilang Sajati, berasal dari Bandung, Jawa Barat. Hal ini yang membuat jalur komunikasi sering terhambat.

Proses pengecoran fondasi

“Belum lagi, kemampuan finansial kontraktor masih diragukan, karena tidak bisa dinilai secara langsung. Beda hal jika kontraktornya orang lokal, kita bisa langsung nilai kemampuan keuangan dan kualitasnya. Tapi dengan progres yang lambat seperti ini, sudah cukup jadi ukuran bahwa kontraktor tidak memiliki kemampuan finansial memadai. Dan herannya, kenapa untuk bangun gedung saja, harus orang Aceh,” kata sumber lain.

Sayangnya, hingga saat ini Direktur RSUD Chasan Boesoirie, Ternate, dr. Syamsul Bahri, SP.Og belum dapat dikonfirmasi. Deteksi News berusaha menghubungi yang bersangkutan via ponsel, namun tidak ada tanggapan. Demikian pula dengan kontraktor maupun konsultan pengawas, belum dapat dikonfirmasi karena tidak diketahui siapa pemilik perusahaan-perusahaan tersebut. (eko)

Iklan
Show More

Azwar EKO

Penulis Nomor Register Kompetensi Dewan Pers: 3015-PWI/WU/DP/VI/2012/18/10/79 (Wartawan Utama)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close