ETALASE

Konsultan Luar Daerah Tetap Dominasi Proyek P2JN Malut

TERNATE, DETEKSINEWS.com – Dominasi konsultan luar daerah terhadap proyek-proyek di Maluku Utara kian mengkhawatirkan. Penyebabnya, perusahaan-perusahaan konsultan ini sudah merambah di hampir semua instansi pemerintah yang memiliki proyek jasa konsultansi. Dan parahnya terjadi di Satker Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) Malut. Dari 14 proyek yang dilelang tahun 2019 ini, 12 diantaranya dikuasai konsultan dari luar daerah, termasuk dua paket dimiliki konsultan plat merah, PT Yodya Karya (Persero).

Adapun konsultan lokal hanya mendapat satu paket saja, yakni pengawasan teknik jalan dan jembatan Ternate dan Tidore dengan pagu sebesar Rp 2,3 miliar (Tepatnya Rp 2.350.535.000), dengan pemenangnya yakni PT Megacotama Lino Raya. Sedangkan satu paket lainnya, sampai sekarang belum ada data pemenang.

Data yang diperoleh Deteksi News menyebutkan, di Satker P2JN Malut ini, ada empat perusahaan konsultan yang memperoleh paket lebih dari satu. Mereka adalah, PT Anugerah Krida Pradana yang memperoleh paket Core Team Perencanaan dan Pengawasan dengan pagu Rp 5,04 miliar (Rp 5.046.451.000), dan Pengawasan Teknik Jalan dan Jembatan Pulau Halmahera Selatan dengan pagu sebesar Rp 3,3 miliar (Rp. 3.319.033.000)

Kemudian konsultan plat merah, PT Yodya Karya (Persero) yang mendapat dua paket, yakni pengawasan Pulau Morotai I dengan pagu senilai Rp 3,6 miliar (Rp 3.661.097.000), dan pengawasan Morotai II dengan pagu sebesar Rp 2,8 miliar (Rp 2.882.473.000). Menariknya, paket Core Team Perencanaan dan Pengawasan itu sebelumnya dimenangkan PT Yodya Karya, namun saat ini PT Anugerah Krida Pradana sudah tercatat sebagai pemenangnya.

Selanjutnya adalah PT Iraya Konsultan. Perusahaan yang berasal dari Makassar ini memperoleh dua paket, yakni perencanaan jembatan Morotai I dengan pagu sebesar Rp 2,3 miliar (Rp 2.230.220.000), dan perencanaan jembatan Maluku Utara (tersebar) dengan pagu Rp 2,2 miliar (Rp 2.220.295.000).

Sedangkan satu perusahaan lagi yakni PT Arista Cipta, yang juga beralamat di Makassar. Perusahaan ini memperoleh dua paket yakni pengawasan jalan jembatan Haltim I dengan pagu sebesar Rp 2,1 miliar (Rp 2.176.680.000), dan pengawasan jalan jembatan Halteng I dengan pagu senilai Rp 1,7 miliar (Rp 1.795.761.000). (Data selengkapnya lihat tabel di bawah)

Ketua Lembaga Pemantau Proyek Publik (LEPPROP) Malut menilai, kehadiran konsultan luar daerah ini berpotensi mengancam keberadaan konsultan lokal, utamanya konsultan skala kecil dan menengah. Sebab dengan kehadiran mereka di seluruh satker maupun pemda, makin menutup peluang konsultan lokal untuk mendapatkan pekerjaan.

“Jika masalah ini tidak segera diantisipasi, maka makin banyak konsultan lokal gulung tikar. Padahal, konsultan lokal juga menjadi tulang punggung perekonomian daerah, karena mereka mempekerjakan orang lokal dan membayar pajak di daerah. Artinya, uang dari proyek yang ditangani, tetap berputar di daerah,” kata Tahir.

Sayangnya, baik Kepala Satker P2JN Malut maupun Ketua Pokja belum dapat dikonfirmasi. Deteksi News sempat mendatangi kantor yang beralamat di depan PLN Ternate ini, namun tidak ada yang bersedia untuk dikonfirmasi. Asisten Umum yang sempat menemui Deteksi News ternyata tidak mampu menjelaskan apa-apa. (eko)

Data pemenang lelang di Satker P2Jn
Show More

Azwar EKO

Penulis Nomor Register Kompetensi Dewan Pers: 3015-PWI/WU/DP/VI/2012/18/10/79 (Wartawan Utama)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close